JAKARTA – Di era media sosial, banyak remaja hidup dalam tekanan tak kasat mata. Standar hidup tak lagi ditentukan oleh kenyamanan pribadi, tapi oleh validasi dari luar dan berapa jumlah likes, seberapa estetik feeds Instagram, hingga seberapa sering nongkrong di tempat kekinian. Sayangnya, ketika gengsi jadi pusat perhatian, jati diri perlahan bisa menghilang.

Remaja sering kali tidak sadar bahwa terlalu fokus pada penampilan luar bisa membuat hati kering dan pikiran buntu. Dalam proses bertumbuh, seharusnya yang dikembangkan bukan hanya gaya, tapi juga cara berpikir, sikap, dan empati.

Namun, gengsi dan obsesi terhadap hal-hal duniawi justru sering menjadi penghambat terbesar.

Sahabat Tikta berikut ini kami ulaskan delapan bahaya gengsi bagi kalangan remaja: 

1. Terlalu fokus pada materi bikin lupa siapa diri sendiri

Gadget mahal dan baju bermerek bisa jadi sumber kebanggaan, tapi saat semua itu jadi patokan utama, kamu bisa kehilangan arah. Identitas asli tertutup oleh keinginan untuk “terlihat” keren.

2. Kurang peduli sama orang lain

Orang yang terlalu sibuk membangun citra kadang jadi lupa merasakan. Empati memudar, karena fokusnya bukan lagi pada relasi, tapi reputasi.

3. Ego jadi makin besar

Rasa ingin selalu tampil paling menonjol bisa menumbuhkan sikap merasa paling hebat. Ini bikin kamu susah menerima kritik, bahkan dari teman dekat.

4. Hidup terasa penuh tekanan

Gengsi menuntut tampil sempurna setiap waktu. Beban ini bisa menimbulkan kecemasan, bahkan rasa rendah diri saat tak bisa mengikuti arus.

5. Spiritual kosong, batin kering

Saat semua diukur dari pengakuan luar, isi hati jarang disapa. Padahal, perasaan damai datang dari dalam, bukan dari citra luar.

6. Pertemanan jadi soal untung rugi

Kalau berteman cuma karena status sosial, relasi jadi tipis. Tidak ada ruang untuk jujur, yang ada hanya persaingan terselubung.

7. Selalu merasa kurang

Ketika hidup jadi ajang pembandingan, kepuasan jadi mustahil. Apa pun yang dimiliki akan terasa tidak cukup.

8. Jarang berkembang

Waktu yang harusnya dipakai untuk mengejar passion justru habis untuk menjaga citra. Akhirnya, potensi diri terabaikan.

Catatan: Menjadi remaja bukan soal terlihat sempurna, tapi tentang tumbuh jadi pribadi yang utuh meski perlahan.