JAKARTA – Wild Card (2015) menampilkan Jason Statham sebagai Nick Wild, mantan tentara yang kini bekerja sebagai pengawal dan “fixer” di Las Vegas.
Ia ahli bertarung, cerdas membaca bahaya, dan pandai menghilang, tapi hidupnya stagnan dalam lingkaran pekerjaan serabutan dan masalah pribadi.
Cerita berubah ketika Holly, teman dekat Nick, menjadi korban penyiksaan oleh seorang mafia muda.
Tak menyerah pada rasa takut, Holly meminta Nick membantunya membalas. Keputusan itu membuat Nick terlibat dalam perang dengan kelompok kriminal kelas atas.
Nick bukan pahlawan tanpa cela. Ia kecanduan judi dan sering menghancurkan dirinya sendiri.
Film ini memperlihatkan karakter yang kuat secara fisik tapi rapuh secara mental. Las Vegas digambarkan sebagai dunia yang terus menggoda jatuh pada pilihan buruk.
Aksi fisik dalam Wild Card bukan parade baku hantam tanpa arah. Setiap adegan pertarungan terasa terukur, cepat, brutal, dan selalu punya alasan emosional.
Statham bukan hanya memukul, tapi mengirim pesan bahwa Nick melawan bukan karena ia ingin, tapi karena dunia terus memaksanya.
Masalah terbesar Nick sebenarnya bukan para mafia, melainkan dirinya sendiri. Setiap kesempatan untuk keluar dari kehidupan kelam selalu ia hancurkan karena dorongan berjudi. Itulah yang membuat film ini lebih gelap daripada action biasa musuh utama ada di dalam dirinya.
Tensi naik saat Nick akhirnya jadi buruan mafia setelah membuat keputusan impulsif. Ia harus memilih: terus hidup dalam siklus kehancuran atau mencari awal baru. Pertaruhan terbesar bukan di meja kasino, tapi pada masa depan yang belum tentu ia percaya layak ia miliki.
Wild Card kisah pria berbakat besar yang terjebak masa lalu dan tidak pandai memaafkan dirinya sendiri.
Di tengah dentuman aksi, film ini mengingatkan kemenangan terbesar bukan mengalahkan musuh, tapi berani keluar dari hidup yang menenggelamkan.